HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Stasiun Parung Panjang, Generasi Pertama Stasiun di Indonesia

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Sabtu, 05 Mei 2018 | 01.57

Stasiun Kereta Api Parung Panjang berada di ketinggian + 54 m di atas permukaan laut. Stasiun Parung Panjang terletak di Jalan Sayuti No. 2 Desa Parungpanjang, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya di dekat Pasar Parung Panjang. Bangunan Stasiun Parung Panjang yang lama merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Duri-Rangkasbitung, sepanjang 76 kilometer.

Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1899, berbarengan dengan pengerjaan jalur kereta api Duri-Tangerang. Proyek jalur kereta api Duri-Rangkasbitung ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Barat jilid 2 (Westerlijnen-2) hingga Merak.


Pengerjaan proyek jalur kereta api dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Duri-Rangkasbitung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Rangkasbitung-Serang-Cilegon (1900), dan Cilegon-Merak (1914). Dulu stasiun ini merupakan stasiun yang cukup besar, bahkan lebih besar dari Stasiun Tanah Abang. Pasalnya, Pemerintah Hindia Belanda menjadikan stasiun ini stasiun pembantu untuk bengkel.

Hal ini mengingat letak stasiun yang berada di tengah-tengah Merak dan Jakarta. Sejak menjadi salah satu stasiun yang terelektrifikasi, Stasiun Parung Panjang berubah menjadi stasiun yang sibuk. Di samping bangunan stasiun yang lama pun akhirnya didirikan stasiun baru yang lebih besar dan modern dengan dua lantai. Stasiun yang memiliki bangunan lama seluas 140 m² ini telah dicatat PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai aset dengan nomor register 258/06.16360/PRP/BD, dan memiliki 4 jalur.

Jalur 1 dan 4 digunakan untuk parkir KRL. Jalur 2 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Cilejit hingga Merak. Sedangkan, jalur 3 digunakan untuk jalur menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Serpong hingga Tanah Abang. Seperti Stasiun Sudimara, bangunan stasiun lamanya masih bisa berdampingan dengan stasiun barunya. Sesuatu antisipasi pekerjaan yang sangat bagus. Tinggal bagaimana pemeliharaan dan perawatan terhadap bangunan stasiun yang lama. Akankah terbengkelai atau bersanding saling mengisi? Waktulah yang akan menjawabnya
Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | redaksi.potretbogornews3@gmail.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2010 - 2018. Iwan S Pamungkas. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita