HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Akibat Perumahan Yang Kian Menjamur Lahan Pertanian di Tajurhalang Menyusut

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Kamis, 12 April 2018 | 15.49

Tajurhalang,potretbogornewsBukan rahasia lagi, lahan pertanian di Kecamatan Tajurhalang, banyak menjadi areal perumahan baru, kendati lahan pertanian tersebut masuk kategori lahan produktif.

Padahal program ketahanan pangan nasional, wilayah Depok dan Kabupaten Bogor sudah berjalan sekitar 4 tahun, beberapa titik lokasi penunjang program tersebut ada di wilayah Kecamatan Tajurhalang, tepatnya di Desa Citayam, Sasakpanjang dan sekitarnya. Program yang digagas oleh Kodim Depok ini sudah mendapatkan hasil yang sempurna, berton-ton padi dihasilkan setiap enam bulan.

“Namun program ketahanan pangan yang sudah berjalan ini terancam bubar alias berhenti, dikarenakan lahan yang dijadikan lokasi tanam padi, kini sudah diratakan oleh alat berat dan akan dibangun perumahaan seluas 4 hekatar persegi,” ujar Yatna (45) salah satu warga sekitar.

Bukan hanya program ketahanan pangannya saja yang terhenti, nasib para petani penggarap yang memang menggantungkan hidupnya dilahan tersebut untuk bertani ikut terkena dampak pemerataan lahan yang biasa ditanaminya.“Memang lahan tersebut dijual oleh para pemilik yang sah, tapi apa memang harus seperti itu tanpa ada solusi bagi kami sebagai petani,” kata salah seorang petani penggarap, Kucit dengan nada sinis.

Masih kata Kucit, dengan diratakanya lahan ini sudah pasti dirinya tidak akan bertani, sedangkan bertani sudah jadi mata pencaharian untuk menghidupi keluarga. Dirinya berharap ada langkah dari para pemangku kebijakan, untuk mencarikan solusi supaya petani masih bisa memiliki penghasilan.

“Dengan dialih fungsikan lahan ini, yang sekarang sedang diratakan, saya hanya bisa pasrah dan berharap ada keadilan bagi saya dan puluhan petani penggarap lainnya,” pintanya.

Namun apa yang didapat, lanjut pria yang biasa menanam sayuran itu, bagi petani penggarap hanya jadi pengangguran atau paling tidak alih profesi, untuk masyarakat kecil hanya mendapatkan konpensasi yang nilainya sangat kecil paling sekitar Rp50 ribu per KK itu juga sudah disortir oleh Ketua RW.

“Alangkah bodohnya pemimpin di lingkungan kalau hanya mendapatkan Rp50 ribu satu orang, padahal dengan bertani untuk masa depan sudah terjamin, hanya dengan bertani dan menanam padi saja, di mana letak keadilan bagi masyarakat kecil,” tukasnya.(Fir)
Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | redaksi.potretbogornews3@gmail.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2010 - 2018. Iwan S Pamungkas. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita