HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Mengenal Pers dan Jurnalisme

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Sabtu, 24 Maret 2018 | 00.25

Jurnalis, bertugas membuat jurnal pengkabaran kewartawanan kepada khalayak dalam bentuk artikel pemberitaan di lingkar sistem informasi cetak maupun elektronik. Dalam perkembangannya lahirlah berbagai arus informasi hingga terjadi kini, dalam liputan sosial politik, humanis, antropologis, geografis, hingga ke tingkat personal warga, dalam konteks daya hidup antar kebudayaan manusia. 


Dengan cara membentuk badan pemberitaan tingkat dunia, antara lain, Kantor Berita ANTARA Indonesia, Agence France-Presse (AFP) di Perancis, Associated Press (AP) di Amerika Serikat, Kantor Berita Reuters di Inggris, hingga Pers local to global, CNN Indonesia, misalnya, dan banyak lagi badan usaha pers dan penerbitan lainnya. Apa itu Pers? Ini adalah badan usaha sosial media massa. 

Fungsinya penyampaian berita (pengkabaran) kepada publik, bersifat dari publik untuk publik. Bentuk medianya: koran, majalah dan media elektronik, kini ada online media. Sesingkat itu? Iya. Tapi, keluasan bidang kerjanya tidak sesingkat realitas artiannya loh. Seru nggak sih? Yuk kita lanjut ngobrol santai ya. Seorang pekerja pers disebut pewarta atau sebutan populernya wartawan. Ia tidak bekerja sendiri, dipimpin oleh Pemimpin Redaksi. 

Apa itu Pemimpin Redaksi? Ini adalah seorang wartawan senior atau kolumnis berpengalama. Tugasnya antara lain: menentukan layak dan tidaknya sebuah berita dikabarkan kepada khalayak dalam suatu sidang redaksi. Singkatnya begitu. Apa itu Redaksi? Tim penyunting atau para ahli penyusun, perencanaan pemberitaan, umumnya disebut tim redaksi. Seorang Jurnalis atau Pewarta atau Wartawan, bidang tugasnya menggali kebenaran informasi dari publik, berani jujur, komitmen, konsekuen, santun, tegas, tajam dan berani mati, demi kebenaran sebuah pemberitaan untuk kebaikan publik dalam konteks keadilan hukum, sosial plus HAM. 

Kalau mau ditarik lebih luas lagi, untuk siapa pemberitaan berisi validitas kebenaran itu? Untuk kebaikan negara dan bangsa. Oleh karena itu, negara dan alat-alatnya tidak boleh marah atau tersinggung jika ada kritik-pers bernilai positif demi kebenaran untuk kemaslahatan rakyatnya. Karena kritik adalah mata air informasi dan edukasi. Ada berbagai julukan untuk bidang kerja kewartawanan. Antara lain: wartawan kebudayaan, wartawan foto, wartawan perang, dan seterusnya. Untuk lengkapnya tentang sejarah Pers Nasional serta skema manajemen dan organisasi pers, sila dikau mencari dari sumber pustaka. Ya tinggal searching kan? Ada plusnya lagi loh tugas kewartawanan.

Termasuk gugus tugas investigasi serupa intelijen, termasuk ke medan perang serupa tentara, menjadi tugas wartawan perang, untuk mengabarkan kepada publik tentang fakta dalam sebuah pertempuran fisik. Karena itu, NKRI bangga pada ketaladanan para pahlawan Pers Nasional pendahulunya, antara lain, Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), dikukuhkan sebagai Bapak Pers Nasional pada tahun 2006. Abdoel Rivai (1871-1937) dianugerahi gelar oleh pemerintah sebagai Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974. H. Adam Malik Batubara (1917-1984), Mantan Wakil Presiden RI yang ketiga. Nah sudah dulu ya ngobrolnya. 

Yuk kembali ke sekolah belajar terus menuju cita-cita dikau, membahagiakan Bunda dan Ayah. Semangat terus untuk dikau dan Indonesia Cerdas. Salam Indonesia Unit. Sumber CNN.

Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | redaksi.potretbogornews3@gmail.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2010 - 2018. Iwan S Pamungkas. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita