HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Derita Nestapa Rakyat Bumi Tegar Beriman

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Rabu, 21 Maret 2018 | 11.34

Kabupaten Bogor merupakan aerah strategis di Jawa Barat, berbatasan dengan Ibukota Jakarta dan menjadi palang pintu utama dengan Provinsi Banten. Kawasan ini dikenal kaya akan segala macam hal, mulai dari kearifan lokal budaya hingga sumber daya alamnya.

Namun miris, kendati cukup melimpah ruah namun kawasan utara dan barat daya Kabupaten Bogor, mulai dari Tajurhalang, Parung, Gunung Sindur hingga Rumpin dan Parung Panjang memang layak masuk kategori kawasan tertinggal.

Ya, mengacu pada Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor, wilayah utara mengarah pada barat daya Kabupaten Bogor, merupakan salah satu daerah pertambang jenis galian C yang merupakan bahan material tidak strategis tapi vital seperti pasir kuarsa, kaolin, gips, pospat, batu kapur, tanah liat, andesit, kalsit dan batuan beku vulkanik.

Bahkan, dari hasil wawancara dengan sejumlah aparat pemerintahan disana, ambil sempel Rumpin saja, mampu memberikan retribusi sebesar Rp8 Miliar per tahunnya kepada Pemkab Bogor. Itu belum termasuk kepada negara dan Pemprov Jabar.

Duit sebesar itu berasal dari belasan perusahaan tambang yang dikatakan legal oleh Pemerintah. Belum termasuk mereka yang meng-eksploitasi secara illegal. Bayangkan berapa fulus yang dihasilkan jika digabung.

Tentunya, dana itu bisa membuat warga disana sejahtera. Namun, apa mau dikata, dari data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bogor, Kecamatan Rumpin menempati peringkat kedua sebagai wilayah termiskin di Bogor Barat dengan 4.117 rumah tangga.

Usaha pertambangan di kawasan itu bagai buah simalakama. Penerimaan retribusi ada, tetapi tak seimbang dengan dampak yang ditimbulkannya.Dampak baiknya, terbukanya lapangan kerja bagi warga setempat meski hanya sebagai kuli jasa angkut bahan galian ke dalam truk dengan upah Rp20 ribu per satu truk. Buruknya, lingkunan rusak parah. Kemudian jalan rusak akibat truk pengangkut bahan galian melebisi tonase. Tanah yang bececeran di jalan saat diangkut truk bahkan sangat menyebalkan .

Tanah itu bikin jalan becek saat hujan, sementara saat kemarau menjadi debu yang beterbangan ke rumah-rumah penduduk yang membuat udara kotor tidak sehat rumah kotor, dan lain sebagainya Mau tidak mau warga harus menerima semua ini. Warga stres melihat banyak truk yang kotor seperti pakai bedak berkilo-kilo. Tetapi apa daya, kami tak berdaya melawan kekuasaan uang yang berada di balik galian itu. Entah bagaimana kesehatan dan masa depan anak cucu kami kelak. Kami hanya bisa pasrah.

Oleh : IWAN S PAMUNGKAS


Share this article :

1 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda :

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | redaksi.potretbogornews3@gmail.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2010 - 2018. Iwan S Pamungkas. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita