HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Mengenang Ersa Siregar, Jurnalis yang Gugur di Medan Perang

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Jumat, 29 Desember 2017 | 15.57

Jakarta - Tiga belas tahun sudah, wartawan RCTI Ersa Siregar meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Dia patut disebut sebagai pahlawan bangsa dari lingkungan wartawan. 

Pria kelahiran Brastagi, 4 Desember 1951 tersebut ditemukan tewas saat bertugas sebagai seorang jurnalis, seusai kontak senjata antara pasukan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan pasukan TNI Yonif Marinir VI, di Sungai Malehen, Simpang Ulim, Aceh Timur, 29 Desember 2003, sekitar pukul 12.30 WIB, atau 13 tahun lalu.

Bang Ersa panggilan mantan wartawan di sejumlah media termasuk TVRI ini, tewas akibat dua tembakan di tubuhnya, yakni di leher yang tembus hingga ke tangan kanan dan dada yang tembus ke punggung. Sebelumnya pria yang bergabung di RCTI sejak 18 Agustus 1993 tersebut menjadi sandera GAM sejak 29 Juni 2003, bersama kameramen RCTI Ferry Santoro dan sopir RCTI Rahmatsyah. Namun keduanya berhasil diamankan TNI.

Kepergian Ersa tentu saja meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya keluarga, istrinya Tuty Komala Bintang dan ketiga anaknya, Ridwan Ermalandra, Syawaludin Adesyahfitrah dan Syarah Meiliani Fauziah, namun juga bagi dunia jurnalistik. Betapa tidak, setelah berbulan-bulan dalam perjuangan antara hidup dan mati, Ersa Siregar akhirnya meninggalkan keluarga untuk selama-lamanya.

Medan perang memang menjadi pilihan yang sulit, bagi seorang jurnalis untuk meliputnya. Saat berada di medan perang, seorang jurnalis harus berpikir bagaimana menyelamatkan dirinya.

Lantaran tak ada yang memberikan jaminan, pihak-pihak yang bertikai akan mentaati konvensi internasional tentang perlindungan jurnalis saat melakukan peliputan perang. Namun bagi seorang jurnalis sejati seperti Ersa Siregar, hal tersebut bukanlah menjadi halangan untuknya mendapatkan informasi-informasi yang akan disajikan ke publik.

Dengan keberanian tersebut Ersa pun bisa membangun akses ke kedua belah pihak yang bertikai. Hingga pada akhirnya risiko terburuk pun harus dihadapinya. Kepergian Ersa mungkin akan menjadi pengorbanan tertinggi dalam profesi sebagai jurnalis, yakni meninggal saat menjalankan tugas jurnalistik.

Di mata teman seprofesinya, kepergian pria yang menjalani profesi sebagai jurnalis sejak tahun 1987 tersebut menjadi suatu yang sangat berat. Ungkapan tersebut disampaikan salah seorang Koresponden RCTI di Solo, Septyantoro.

Pengalaman bersama Ersa yang paling mengesankan menurut Septyantoro, saat dirinya bersama rekan-rekan koresponden dari daerah lainnya mengikuti pelatihan di RCTI. Meski masih sibuk bertugas di Aceh, Ersa tetap menyempatkan diri ke Jakarta untuk memberikan materi pelatihan bagi koresponden baru, yang akan bertugas di berbagai daerah.

"Saat itu bang Ersa masih di Aceh, tapi beliau menyempatkan diri ke Jakarta untuk memberikan pelatihan. Saat itu Bang Ersa memberikan materi reportase jurnalis saat berada di medan perang. Dia berbagi pengalaman meliput perang, bagi wartawan RCTI yang baru. Setelah selesai beliau kembali ke Aceh," ungkapnya.

Sebelum tahun 1993 Ersa berkarier untuk RCTI, ia pernah di TVRI dan pernah menjadi pembaca berita di Dunia Dalam Berita antara tahun 1978 sampai dengan tahun 1993, Ersa juga pernah berkarier di PT. Fesda, PT. Satmarindo, Majalah Suasana dan Majalah Keluarga. 

Di RCTI sendiri, Ersa mengawali kariernya sebagai penerjemah/produser, lalu berubah menjadi koordinator daerah, lantas koordinator liputan (korlip) pariwisata, lifestyle dan entertainment, Koordinator Bidang Hukum dan Kriminal kota, dan mulai 16 November 2001 hingga tewas tertembak, posisinya adalah sebagai Koordinator

Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | potret_bogor@yahoo.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2011. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita