HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Di Balik Tertankapnya Pangeran Diponegoro

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Jumat, 08 Desember 2017 | 10.32

Perang Jawa berakhir ketika Belanda akhirnya bisa 'meringkus' Pangeran Diponegoro saat sang pangeran menghadiri perundingan. Perundingan itu sendiri di inisiasi oleh pihak kolonial Belanda. Tapi kemudian di perundingan itu pula, sang pangeran di tahan Belanda, untuk kemudian dibuang ke luar Jawa.

Ada sebuah cerita menarik dibalik perundingan itu yang ditulis Peter Carey dalam bukunya, " Takdir: Riwayat Pendidikan Pangeran Diponegoro (1785-1855)," (2017). Dalam bukunya itu, Peter Carey sejarawan yang pernah mengajar di Oxford University, Inggris itu menuliskan dengan detil jejak sejarah perang Jawa dan perundingan yang berujung pada penangkapan Diponegoro. Menurut Peter dalam bukunya, adalah Kolonel Cleerens mencoba membuka jalan, membujuk Diponegoro untuk berunding.

Sementara yang memimpin perburuan terhadap Diponegoro adalah Jenderal De Kock. Jenderal De Kock sendiri adalah jenderal yang mengkomandani pasukan Belanda selama memerangi Diponegoro. Ia yang dapat perintah dari Van den Bosch untuk menangkap Diponegoro hidup atau mati.

Menjelang perundingan digelar, posisi pasukan Diponegoro memang tengah terdesak. Singkat cerita, Pangeran Diponegoro pun setuju untuk berunding setelah dapat jaminan, jika perundingan gagal atau tak ada kata sepakat, ia bisa kembali ke tempatnya.

Ternyata, justru diperundingan itu Diponegoro ditangkap. Sang pangeran pun merasa dikhianati. Tapi, nasi telah jadi bubur. Pasukan yang ikut mengawal sang pangeran sudah dilucuti. Diponegoro pun tak bisa berbuat apa-apa, selain akhirnya ikut kemauan Belanda.

Referensi pihak ketiga
Namun ada sebuah cerita menarik yang dituturkan Peter Carey dalam bukunya, menjelang detik-detik Diponegoro ditangkap di tengah perundingan. Peter mengutip Babad Dipanegara IV. Menurut Peter, mengutip Babad Dipanegara IV, ada kalimat emosional yang diucapkan Diponegoro ketika tahu dirinya dikhianati dalam perundingan.

"Saya tidak takut mati. Dalam semua pertempuran saya selalu luput dari kematian. Sedangkan para pengikut saya, mereka sekedar melaksanakan perintah saya selama perang di Jawa dengan demikian tidak dapat diminta pertanggungjawaban. Sekarang tak ada yang tersisa kecuali dibunuh dan saya tidak bermaksud menghindarinya," itulah yang dikatakan Diponegoro, seperti dikutip Peter dari Babad Dipanegara IV yang kemudian dituliskan dalam bukunya.

Diponegoro juga meminta De Kock, andai dia sudah dibunuh, jasad dia hendaknya dibawa ke Imogiri dan dikuburkan jadi satu dengan istrinya Raden Ayu Maduretno. Tapi, Diponegoro tak dibunuh. Justru kemudian di buang ke Sulawesi, sampai meninggalnya di sana.

Referensi:

1. Buku, "Takdir: Riwayat Pendidikan Pangeran Diponegoro (1785-1855), (Peter Carey, 2017

Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | potret_bogor@yahoo.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2011. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita