HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Mengenal KH. Abdurrachman Wahid

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Rabu, 08 November 2017 | 19.53

KH. Abdurahman Wahid lahir pada tangal 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Pada awalnya orang tua beliau memberi nama Abdurrahman Adakhil yang memiliki arti sang penakluk. Seiring dengan berjalnnya waktu, nama tersebut tidak cukup familiar maka digantilah menjadi nama “wahid”. Beliau merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Keluarganya bukan sembarang keluarga karena beliau berasalh dari garis keturunan K.H Hasyim Asyari seorang pendiri NU sekaligus kakek dari ayahnya yang bernaha K.H. Wahid Hasyim.

Beliau pun dibesarkan dari lingkungkan pesantren di Jombang. Kakek dari pihak ibunya yaitu K.H. Bisri Syansuri adalah seorang pengajar pesantren pertama di Jombang. Sedangkan ibunya yaitu bernama Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri pondok pesantren Denayar Jombang. Karena sedari kecil sampai dewasa berada di lingkungan pesantren untuk menimba ilmu dan mengajar beliau pun diberikan panggilan kehormatan yang khas pesantren kepada anak kiai yaitu Gus Dur, dimana Gus sendiri memiliki arti mas atau abang.

Pada tahun 1944 Abdurrachman wahid pindah dari Jombang menuju Jakarta. Kepindahan tersbeut dikarenakan ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majelis Syuro Mulimin Indonesia atau disingkat dengan Masyumi. Setelah Indonesia merdeka, beliau pun kembali ke Jombang dan menetap selama 5 tahun. Barulah pada tahun 1949 dia kembali ke Jakrta karena Ayahnya diamanahi sebagai menteri agama.
Gus dur pun tak lama menetap di Jakarta karena setelah lulus SMP, Gus Dur masuk pesantren Tegalrejo yang berad di Kota Magelang, barulah pada tahun 1959 dia pun pindah pesantren ke Tambakberas, Kota Jombang. Setelah lulus dari pesantren dia pun memulai pekerjaan pertamanya sebagai seorang guru dan kemudian ditunjuk sebagai ketua madrasah. Beliau pun sempat menjadi jurnalis utuk majalah Horizon dan juga majalah Budaya Jaya.

Menempuh Pendidikan di Luar Negeri
Pada tahun 1963, Gus Dur mendapatkan beasiswa dari kementrian Agama untuk menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Sebelum Memulai perkuliahan, beliau diharuskan untuk mengambil kelas bahasa aran selama satu tahun. Setelah lulus Gus Dur pun mulai belajar bahasa arab dan ilmu Islam. Serta aktif dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah tersebut.

 Pada saat itu, Indonesia sedang genting-gentingnya terjadi peristiwa Gerakan 30 September dan berdampak pada mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Karena hal itulah, Mayor Jendral Soeharto memberikan tugas pada Gus Dur untuk melakukan investigasi terhadap pelajar Indonesia yang berada di Mesir tentang kedudukannya dalam berpolitik. Belaiu pun menuliskannya dalam bentuk laporan.

Karena banyaknya aktivitas tersebut, Gus Dur pun gagal untuk menyelesaikan studynya di Mesir. Ia pun mengulang pendidikannya dengan mendapatkan beasiswa di Universitas Baghdad, Irak. Dimana pun berada dia selalu memilih untuk menjadi seorang jurnalis. Setelah menyelesaikan studinya di Universitas Baghdad. Pasca lulus, dia pun ingin melanjutkan studinya ke Universitas Leiden, namun karena ijazahnya tidak diakui universitas tersebut terpaksa ia pun harus pergi terlebih dahulu ke Jerman dan perancis sebelum kembali ke Indonesia pada tahun 1971.
Berkiprah di Indonesia

Setelah mengembara ilmu ke lauar negeri, Gus Dur memilih untuk kembali ke kota kelahirannya, Jombang dan berkarir sebagai guru. Beliau pun megajar di Falkultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Setelah itu, tepatnya tiga tahun setelah kepulangannya dari luar negeri, beliau diangkat menjadi sekretaris Pesantren tebu ireng dan mulai berkpirah menjadi seorang kolumnis. Gus Dur pun mulai diundangan unuk menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi atau seminar di dalam dan luar negeri.

Kemudian minatnya terhadap organisasi begitu kuat. Dia pun mengikuti sebuah LSM pertama di LP3ES bersama Aswab Mahasin, Adi Sasono, Dawam Rahardjo dalam proyek pengembangan pesantren. Dimana rintisan pesantren pertamanya dimulai di Pesantren Ciganjur.

Pada tahun 1980, Gus Dur mendapatkan amanah sebagai wakil katib syuriah PBNU dimana ia sering berdiskusi, berdebat tentang masalah politik, agama, dan juga sosial dengan berbagai kalangan lintas agama, suku, dan juga displin ilmu. Lama berkpirah di PBNU, pada akhirnya beliau pun terpilih menjadi ketua PBNU pada muktamar ke 27 di Situbondo dan ke 28 di pesantren Krapyak Jogjakarta tahun 1989 dan pada tahun 1994.

Menjabat Sebagai Presiden RI
Akhirnya jabatan sebagai ketua PBNU pun beliau kepaskan karena memang Gus Dur diangkat sebagai Presiden ke 4 RI. Selama menjadi presiden beliau dikenal cukup neyeleneh dan kontroversi. Pada saat itu yang menjadi wakil adalah Megawati Soekarnoputri. Beliau dikenal sebagai seseorang yang peduli akan budaya, sosial, dan juga seseorang yang disegani oleh orang-orang yang berbeda agama. Ketika beliau mejabat sebagai presiden tentunya banyak didukung oleh kalangan non muslim.

Gus Dur menjabat sebagai presiden sekitar 20 bulan. Ketika Gus Dur menjabat beliau pernah mengeluarkan sebuah dekrit yang berisi tentang:
· Pembubaran MPR/DPR
· Mengembalikan kedaultan ke tangan rakyat dengan mempecepat pemilu dalam waktu satu tahun, serta
· Membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap sidang istimewa MPR
Pada akhirnya dekrit tersebut tidak memeproleh dukungan. Pada tanggal 23 Juli 2001, MPR secara resmi memberhentikan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri.
Itulah biografi Abdurrachman wahid yang pernah menjabat sebagai presiden serta memajukkan Indonesia lewat pendidikan dan budaya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.
Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | potret_bogor@yahoo.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2011. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita