HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Kerusakan Ruas Jalan Di Rumpin Kerap Jadi Pemicu Konflik

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Rabu, 04 Oktober 2017 | 17.22

Ironis memang, sebagai daerah penghasil berbagai macam batu, masyarakat di Kecamatan Rumpin, hanya mendapatkan ruas jalan rusak, berdebu pada musim panas, berlumpur pada musim penghujan. Sebagian besar bahan batu tersebut dibawa untuk membangun Jakarta. Sejak dibukanya lahan tambang di Rumpin pada 2001 lalu, eksploitasi hasil galian batu andesit, pasir, kerikil, dan tras menjadi yang terbesar di Kabupaten Bogor. Namun, hal itu meninggalkan kesusahan tersendiri bagi warga sekitar. Tidak saja mengganggu aktivitas, tapi juga sarat konflik antara yang berkepentingan.

Ratna salah seorang guru di Madrasah Syanawiah Negeri yang berada di Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin menuturkan, tiap hari sekolahnya selalu ditutupi debu yang tebal yang berasal dari jalan akibat lewatnya truk tronton pengangkut hasil tambang tepat didepan sekolah." Tiap hari saya dan murid - murid harus mengelap, nyapu dan ngepel sebelum dan sesudah sekolah sudah menjadi kegiatan semua Sekolah Mts Negeri. Bila musim penghujan bukan hanya debu, tapi lumpur juga," terangnya kepada Potret Bogor, Selasa (3/10).

Ratna melanjutkan, menurutnya bangunan sekolah memang lebih rendah dari badan jalan sehingga saat hujan, lumpur yang meluap dari jalan mencapai halaman dan teras sekolah. Jika sedang kemarau, kubangan lumpur itu jadi debu yang berterbangan. Sehingga dengan terpaksa para murid dan guru membersihkannya jika tidak sekolah tempat menuntut ilmu akan tertutup lumpur atau debu. “Dulu mempunyai bangunan sekolah berada di sisi jalan merupakan idaman. Namun sekarang, hanya menimbulkan kesusahan,” tururnya.

Kondisi jalan di Leuwi Ranji yang termasuk wilayah Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, tak jauh berbeda kondisinya rusak parah. Badan jalan berlubang seperti kubangan lumpur, dengan kedalaman melebihi mata kaki. Lumpur dan tanah gembur juga membuat jalan licin, memberi risiko tergelincir bagi pengemudi sepeda motor. ' Kalau habis hujan memang seperti ini. Jangan lewat tengah jalan, bisa terjebak,” tutur salah seorang pemotor yang melintas Nurohmat.

Menurut Kepala Desa Sukamulya Suganda, jalan yang buruk juga membuat ekonomi masyarakat sulit berkembang. Salah satunya karena minimnya angkutan umum yang mau melintas. Saat ini baru tersedia rute Cisauk-Cicangkal, sedangkan rute Cicangkal-Gunungsindur, tak dilewati angkutan umum. Bahkan, angkutan umum yang melintasi Pasar Cicangkal terbilang minim. Kadang kondisi jalan rusak dan lalu lalang nya truk tronton memicu konflik. " Jalan rusak juga membuat relasi antarwarga memanas. Warga yang merasa dirugikan menutup jalan dari truk tronton, seperti kerap dilakukan warga Kampung Leuwi Ranji di Desa Sukamulya dengan menaruh pohon, gerobak hingga kandang ayam di tengah jalan. Sementara warga lain yang merasa urusan perutnya terganggu menentang," tandas Kades.

Data dari Kecamatan Rumpin, pada 2016, dari 152 kilometer jalan di Rumpin, hanya 30,7% yang kondisinya baik. Hal ini disebabkan sebagian ruas jalan itu dilalui ratusan truk pengangkut batu dan pasir yang bebannya melebihi kapasitas jalan. Sejak 2010, tak lagi ada perbaikan jalan di rute itu.Kondisi ini menjadi ironi di Rumpin, yang merupakan salah satu penghasil batu terbesar di Kabupaten Bogor. Data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Bogor, pada 2015 produksi batu andesit mencapai 9,3 juta ton, naik dari 2014 sebanyak 7,2 juta ton. Dari jumlah itu, 60% berasal dari Rumpin dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah.( Iwan S Pamungkas)

Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | potret_bogor@yahoo.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2011. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita