HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Program Tepung Laung Menciptakan Ketahanan Keluarga Melalui Kader PKK

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Kamis, 01 Mei 2014 | 08.25



Kota Bogor, potretbogornews.com - Dalam menyikapi banyaknya kasus kekerasan seksual pada anak-anak dan perempuan di bawah umur yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Jawa Barat dan Bogor. Hj. Netty Prasetyani Heryawan dengan program “Tepung Laung Kader Keluarga Bahagia” dapat menciptakan ketahanan keluarga bagi kader-kader PKK di wilayah Jawa Barat, karena melalui program ini para kader PKK dapat memiliki pemahaman ketahanan keluarga sehingga tidak dapat menghindari terjadinya kekerasan seksual pada anggota kelurga terutama anak-anaknya. Demikian diungkapkannya kepada Potret Bogor News usai melantik Yane Ardian Bima Arya sebagai ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Bogor.


Sebab menurut Ketua TP PKK Jawa Barat ini, di dalam program tersebut disampaikan berbagai materi-materi ketahanan keluarga kita sampaikan kepada kader-kader PKK. Pertama, pola komunikasi suami istri, jangan lagi ada piring terbang, banting-banting pintu karena bagaimanapun keharmonisan orang tua akan berdampak pada anak; Kedua, Pola komunikasi efektif orang tua terhadap anak, orang tua harus bisa membagi sekmen kehidupan pribadi kepada si anak, kapan dia jadi raja, kapan dia jadi sahabat, kapan dia menjadi anak kecil. 

Kadang orang tua jarang memberikan kesan yang utuh ketika si anak perempuan mengalami menstruasi misalnya, apa yang harus dilakukan ketika seorang anak perempuan mengalami menstruasi. “Jarang ibu-ibu yang berpesan kepada anaknya bahwa si anak sudah mulai menghasilkan sel telur yang bisa di buahi oleh sperma dan sebagainya, ini jarang sekali,” tuturnya.

Netty mengatakan, konsep seksualitas si anak dibangun oleh si anak itu sendiri dan diperlukan pendidikan seks kepada anak di mulai sejak dini. Sebab konsep seksualitas itu harus dibangun dengan utuh dan komperhensif termasuk memisahkan si anak yang berbeda jenis kelamin di tempat tidur yang berbeda dan melarang si anak yang sama jenis kelamin untuk tidur dalam satu selimut. Ini semua merupakan pendidikan seksualitas, jadi jangan bilang homoseksual memang bawaan dari lahir, itu semua tidak ada karena tuhan menciptakan manusia itu hanya dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Jika ada laki-laki menyukai laki-laki serta perempuan menyukai sesame perempuan itu sudah menyalahi kodrat. “Bila itu semua sudah terjadi, siapa yang patut di salahkan, apakah Polisi, kepala sekolah kan tidak. Karena yang patut disalahkan pertama kali adalah orang tua, karena si anak pertama kali tumbuh kembang adalah di bawah pengawasan orang tua,” ucapnya.

Dikatakannya, permasalahan inilah yang harus di petakan karena tidak semua orang tua itu siap menjadi orang tua, tidak semua orang tua memiliki pengetahuan, tidak semua orang tua punya metodologi strategi cara berkomunikasi yang baik dengan anak. Inilah yang harus kita kerjakan bersama-sama, memang Pekerjaan Rumah (PR) berat. (Sumburi)





Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

G

LAWAS

 
potretbogornews : Redaksi | potret_bogor@yahoo.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2011. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita