HEADLINES NEWS :
REDAKSI

Asal Usul Kerajaan Pajajaran

Diposkan Oleh: potretbogornews.com on Selasa, 21 Mei 2013 | 15.54

Asal Usul Kerajaan Pajajaran
Tak dipungkiri sebenarnya Pajajaran adalah pecahan dari kerajaan Tarauma Negara atau dengan istilah lain kelanjutan dasi Kerajaan Taruma Negara. Hal ini di perkuat dengan adanya prasasti pasir muara yang bertuliskan;
" Ini sabdakalanda rakryan juru pengambat kawihaji panyca pasagi marsan desa berpulihkan haji sunda."

terjemahan menurut Boesh,
" Ini tanda ucapan Rakryan juru pengambat dalam tahun saka kawihaji [8] panca [5] pasagi [4], pemerintahan nagara di kembalkan kepada raja sunda."

Karena angka tahunnya bercorak "sangkala" yang mengikuti ketentuan "angkanam pamato galih/angka dibaca dari kanan,maka prasasti dibuat tahun 458 saka atau tahun 536 masehi.


Pada Prasasti Pasir Muara ada kata pemerintahan di kembalikan kepada raja sunda. Ini berarti yang berkuasa di Taruma Negara bukanlah asli keturunan sunda. Dalam sejarah ada di sebutkan bahwa kerajaan Taruma Negara' pendiri sekaligus yang jadi pengusanya adalah keturunan dari bangsa India.

Menurut Pustaka Nusantara Purwa II, pendiri Taruma Negara adalah Prabu Jaya Singawarman. Singawarman adalah menantu Raja Dewawarman VII, raja di Kerajaan Salaka Negara atau Rajatapura. Singawarman adalah maharesi dari solankayana di india yang mengungsi karena kerajaannya di taklukan Maharaja Samudragupta dari kerajaan Magada.

Diliat dari tahun prasasti yang bertuliskan 458 atau 536m berarti raja yang burkuasa di Taruma Negara saat itu adalah Prabu Suryawarman, [535 M - 561 M]. Suryawarman adalah raja Taruma Negara ke 7, yang menggantikan tahta ayahnya dan meneruskan kebijakan ayah handanya Prabu Indrawaman.

Sebelumya sebelum Prasasti Pasir Muara di tulis. Prabu Suryawarman telah membuat seatu kebijaksaaan besar yaitu memberikan sebagian wilayahnya kepada menantunya yaitu MANIKMAYA di sebelah timur wilayah Nagreg sekarang.yang oleh Prabu Manik Maya wilayahhya di bangun keraton dengan nama KERAJAAN KENDAN. Cicit dari Prabu Manik Maya lah yang suatu hari nanti muncul sebagai pendiri Kerajaan Galuh yaitu Prabu WRETI kANDAYUN.

Taruma Negara mampu bertahan sampai pada keturunan raja ke-12 yaitu Prabu Linggawarman. Linggwarman tidaklah di karuniai putra mahkota, ia hanya dikaruniai 2 orang putri;
1. Putri Manasih yang di peristri PRABU TARUSBAWA dari kerajaan Sunda Sembawa, dimana kerajaannya adalah masih bawahan Tarumanegara.
2. Putri Subakancana yang diperisteri DAPUNTA HYANG SRI JAYANASA, pendiri kerajaa Sriwijaya.

Tarusbawa lah yang akhirnya kelimpahan tahta meneruskan kekeuasaan mertuanya menjadi Raja di Tarumanagara, dan menjadi raja ke-13 di Tarumanagara. Hasrat Prabu Tarusbawa yang ingin mencapai kejayaan seperti kejayaan Purnawarman dengan cara memindahkan ibukota keraton Taruma Negara di Purasaba ke Sunda Pura dan mengganti nama Kerajaan Taruma Negara dengan Nama KERAJAAN SUNDA, justru menuai hasil yang tidak diharapkan sebelumnya.

Peristiwa pemindahan keraton oleh Tarusbawa di manfaatkan WRETI KANDAYUN, pendiri KERAJAAN GALUH untuk memisahkan diri dari kekuasaan Taruma Negara. Dengan dukungan Kebesaran Nama MAHARANI SIMA dari kerajaan KALINGGA, Prabu Wreti Kandayun menuntun Prabu Tarusbawa memecah bekas kerajaan Taruma neegara menjadi dua bagian.

Prabu Wreti Kandayun mendapat sokongan dari Ratu Sima karena putra mahkota galuh yaitu BRATA SENAWA/SENNA berjodoh dengan PUTRI PARWATI, putri dari MAHARANI SIMA/RATU SIMA.

Untuk menghindari perang saudara dengan legowo Prabu Tarusbawa memecah kerejaan Taruma Negara menjadi dua wilayah yaitu KERAJAAN SUNDA dan KERAJAAN GALUH dengan batas wilayah sungai Citarun. Sebelah barat sungai citarum adalah wilayah kerajaan sunda sampai ke Ujung Kulon Banten, sebelah timur Citarum mmenjadi wilayan Kerajaan Galuh sampai Kali Comal dan Sungai Sipamai.



PRAHARA DI GALUH

Prabu Tarusbawa lebih dikenal gelarnya yaitu TOHAA DI SUNDA. Ia memerintah sampai tahun 723 M. Karena putra mahkota wafat mendahuluinya, maka anak wanitanya yang bernama PUTRI TEJA KANCANA yang dingkat sebagai ahli waris kerajaan.

Suami Teja Kancanalah yang akhirnya menggantikan Prabu Tarusbawa menjadi raja Sunda ke-2 ia bernama RAKYAN JAMRI (cicit dari Prabu Wreti Kandayun pendiri kerajaan Galuh, pura dari Prabu Senna/Bratasenawa). Rakyan Jamri dikenal sebagai Prabu HARIS DARMA, yang setelah menguasai kerajaan GALUH dikenal dengan nama Prabu SANJAYA. Prabu Sanjaya pun adalah ahli waris Kerajaan Kalingga, karena ia putra dari Senna dan Putri Parwati anak dari Ratu Simma, sehingga ia pun harus memegang tahta di Kalingga Utara yang disebut BUMI MATARAM di tahun 732 M.

Kekuasaanya di Galuh dan Sunda diserahkan kepada putranya yang bernama TAMPERAN atau RAKEAN PANABARAN. Prabu Sanjaya pun mempunyai putra dari perkawinannya dengan Putri Sudiwara, putri dari DEWASINGA, pengusa di Kalingga Selatan yang disebut BUMI SAMBARA.

Prabu Tarusbawa di nobatkan pada tanggal 9 bagian terang bulan jasta tahun 591 saka, kira-kira bertepayan 18 mei 669 Masehi. Prabu Tarusbawa adalah sahabat baik Prabu Bratasenawa alias Senna (709 M - 716 M). Prabu Senna adalah Raja di Kerajaan Galuh yang ke-3, senna adalah ayah dari Prabu Sanjaya. Sesuai Prasasti Cangal 723 M perasahabatan keduanya mendorong Prabu Tarusbawa mengambil Sanjaya sebagai mantunya.

Pada tahun 716 M terjadi kudeta di kerajaan Galuh, atas Prabu Senna yang dilakukan Purbarosa. PURBAROSA juga adalah sama-sama cucu Prabu Wreti Kandayun dari putra sulungnya yang bernama BATARA DANGHYANG GURU SEMPAK WAJA pendiri kerajaa Galunggung.

Sementara Prabu Senna adalah cucu dari Wreti Kandayun dari puta bungsunya bernama Prabu MANDI MINYAK (702 M - 709 M), raja di galuh yang ke-2. Sempak waja walau sebagai putra sulung tidak bisa menduduki tahta Galuh karena ompong. Ompong di anggap sebagai cacat pisik/jasmani, jadi tidak pantas jadi raja.

Dengan bantuan dari mertunya Raja Indraprahasta, Purbarosa merebut tahta Galuh dari Senna. Senna melarikan diri ke Kalingga, karena isteri Senna adalah putri dari Maharani Ratu Sima, Ratu di Kalingga.

Melihat ayahandanya dikudeta bahkan sampai melarikan diri ke Kalingga. Sebagai seorang anak barniat menuntut balas. Dengan bantuan dari mertuanya Prabu Tarusbawa, Sanjaya menyiapkan pasukan khusus di wilayah rabuyut Sawal sahabat dekat Prabu Senna. Sedangkan Pasukan Sunda bantuan Prabu Tarusbawa di pimpin Patih Anggada.

Dalam kudeta balas dendam Sanjaya seluruh keluarga Purbarosa tewas, kecuali patih Galuh menantu Purbarosa yang bernama Bimaraksa yang lebih dikenal KI BALANG ANTRANG. Ki Balang Antrang juga adalah masih cucu Wreti Kandayun dari putranya yang ke-2, yang bernama RESI GURU JANTAKA atau RAHYANG KIDUL. Seperti Sempak Waja, Resi Guru Jantaka pun tidak bisa menduduki tahta Galuh karena menderita "kemir" atau hernia.

Balang Antrang bersembunyi di Kampung Geger Sunten, sambil menyiapkan kekuatan anti Sanjaya. Ia mendapat dukungan dari raja-raja Kuningan dan sisa-sisa kekuatan Kerajaan Indraprahasta yang juga dihancurkan Sanjaya karena telah ikut membantu Purbarosa menggulingkan Prabu Senna.

Sebelumya Sanjaya mendapat pesan dari Senna, ayahnya. Kecuali Purbarosa, angota keluarga Galuh lainya harus tetap di hormati. Dan Sanjaya pun tidak berhasrat menjadi pengusa di Galuh. Ia haya membalas Dendam ayahnya.

Karenanya setelah mengalahkan Purbarosa, Sanjaya segera menghubungi Sempak Waja di Galunggung meminta agar SANG DEMUNAWAN, adik dari Purbarosa di nobatkan menjadi Raja di Galuh.Tetapi Sempak Waja menolaknya karena takut semua itu hanya muslihat Sanjaya belaka. Dan Sanjaya pun tidak bisa menemukan Balang Antrang pula.

Akhirnya Sanjaya mengangkat PERMANA DIKUSUMA, Sebagai Rajaresi dengan julukan BEGAWAN SAJALAJALA. Pengangkatan Permana Dikusuma karena alasan, karena ia cucu Purbarosa dan juga istrinya RATU NAGA NINGRUM adalah cucu dari KI BALANG ANTRANG.

Permana Dikusumah dan Naga Ningrum mempunyai putra yang bernama SUROTAMA atau MANARAH yang lebih dikenal Ciung Wanara. yang pada saat penyerahan Tahta Sanjaya kepada Permana, manarah masih berusia 5 tahun.

Untuk mengikat kesetiaan Permana terhadap Kerajaan Sunda. Sanjaya menjodohkan Permana dengan DEWI PANGRENYEP, putri dari Patih Angada, patih dari Kerajaan Sunda yang ikut membantu Sanjaya balas dendam. Selain itu Sanjaya pun menunjuk puteranya TAMPERAN sebagai patih di Galuh.

Saat Permana pergi bertapa untuk mencari ketenangan batin, maka urusan pemerintahan diserahkan pada patihnya yaitu Tamperan putra Sanjaya. Tamperan punya watak kurang yang kurang baik. seperginya Permana ia membuat sekandal dengan Dewi Pangrenyep hingga lahirlah KAMARASA alias BANGA.

Untuk menghapus jejak Tamperan menyuruh seseorang untuk membunuh Permana. Semua kejadian ini tercium Balang Antrang.

Pada tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta kerajaan Medang dari orangtuanya. Sebelum meningalkan kekuasaannya, Sanjaya membagi kekuasaan antara putranya dengan RESI GURU DEMUNAWAN.
- Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan.
- Keajaan Kuningan dan Galunggung di perintah oleh Resi Guru Demunawan, putra bungsu Sempak Waja.

Sementara itu Sang Manarah menyiapkan strategi dan kekuatan di geger Sunten untuk rencana perebutan kekuasaan. Sesuai rencana penyerbuan ke galuh dilakukan siang hari dalam acara sabung ayam. Kudeta berhasil dalam waktu yang singkat. Raja Tamperan dan Dewi Pangrenyep di tawan, tetapi Arya Banga di bebaskan.

Beita kematian Tamperan terdengar Sanjaya dari Medang, tanpa menunggu waktu Sanjaya dengan pasukan besar menyerang Galuh. Namun Sang Manarah telah memperhitungkan kemungkinan Sanjaya menyerang balik. Dengan bantuan dari Kerjaan Indraprahasta yang nrnganti nama menjadi Kerajaan Wana Giri dan di bantu Pasukan Kerajaan Kuningan menghadang pasukan Sanjaya.

Untunglah perang besar sesama saudara bisa dilerai berkat kebijakan Resi Guru Demunawan. Dalam perundingannya di keraton galuh, disepakati:
- Kerajaan Galuh diserahkan kepada Manarah (ciung wanara).
- Kerajaan Sunda disserahkan kepada Arya Banga.
- Banga menjadi raja bawahan Manarah.

Dengan demikian sesuai perjanjian yang kala itu tahun 739 M, Sunda Galuh yang selama periode 723 M sampai 739 M yang berada satu kekuasaan kembali terpecah.

Untuk memperteguh perjajnian Manarah dan Banga dijodohkan dengan cicit dari Demunawan.
- Manarah/Ciung Wanara dengan gelar PRABU JAYAPRAKOSA MANDALESWARA SALAKABUANA dijodohlkan dengan KANCANA WANGI.
- Banga yang bergelar PRABU KERTABUANA YASAWIGUNA AJI MULYA dijodohkan dengan KANCANA SARI.

Arya Banga memerintah di Kerajaan Sunda selama 27 tahun dari 739M - 766M, Sementara Manarah di Kerajaan Galuh memerintah dari tahun 739M - 783M. Manarah atau Ciung Wanara melakukan "Manuraja Sunia", yaitu mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan dan menjadi pertapa sampai akhir hayatnya, di tahun 798M di usia 80 tahun.

Keturunan Manarah putus sampai kepada cicitnya yang bernama PRABU LINGGA BUMI yang bertahta dari 813M - 852M. Tahta gGaluh diserahkan kepada suami adiknya yaitu RAKYAN WUWUS adik dari PRABU GAJAHKULON yang memerintah di kerajaan Sunda dari tahun 819M - 891M. Ia adalah cicit dari Banga dan menjadi raja ke-8 di Sunda dihitung dari Prabu Tarusbawa.

Sejak tahun 852M, kedua kerajaan di perintah oleh keturunan Banga, sebagai akibat dari perekawinan diantar kerabat Sunda, Galuh dan Kuningan atau SAUNGGALAH.
Share this article :

0 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda

Terimakasih...

 
potretbogornews : Redaksi | potret_bogor@yahoo.com | Facebook | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Copyright © 2013. - All Rights Reserved
potretbogornews.com update berita kita